TAUHID SOSIAL; TRANSFORMASI NILAI-NILAI ISLAM DALAM MEMBANGUN MASYARAKAT YANG BERPERADABAN

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Interpretasi dari makna tauhid adalah bagaimana hubungan manusia dengan tuhan dan hubungan manusia sesama manusia tidak terjadi ketimpangan, artinya manusia harus mampu menempatkan dirinya sebagai hamba Allah (‘abd) yang selalu menundukkan dirinya dengan melakukan ibadah ritual. Namun begitu, sebagai manusia zon politikon manusia juga harus mampu memahami gejala-gejala social yang terjadi di masyarakat, dan memberikan solusi terhadap permasalahan yang terjadi di masyarakat, serta bagaimana menciptakan kondisi social tersebut menjadi masyarakat adil makmur yang diridhai oleh SWT, agar ketimpangan-ketimpangan social tidak terjadi, lebih-lebih bagaimana memperjuangkan kaum mustadh’afin.

B. Rumusan Masalah

Supaya tidak terjadi ketimpangan social, maka sangat dibutuhkan transformasi nilai-nilai Islam yaitu melakukan proses pemberdayaan dan pembebasan umat terutama pada kaum dhu’afa dari berbagai bentuk eksploitasi baik pada level individual maupun structural.

Dengan kata lain, mereka yang benar-benar bertauhid, seyogyanyalah selalu peka dan terpanggil kesadarannya untuk memerdekakan, membebaskan, dan memberdayakan umat manusia dari segala macam eksploitasi yang membuat kehidupan ini menjadi nista, sekaligus jangan sampai terjangkiti penyakit yang menghancurkan hakikat kemanusiaan ini.

BAB II

PEMBAHASAN

Al-Qur`an, kitab suci umat Islam yang terdiri dari enam ribu ayat lebih sesungguhnya diturunkan dalam dua periode, yaitu periode Mekah dan periode Madinah. Karena itu, ayat-ayat dalam al-Qur`an diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu ayat Makki dan ayat Madani. Implikasinya, periode pembangunan Islam masa Nabi Muhammad saw. juga terdiri dari periode Mekah dan periode Madinah.

Periode Mekkah adalah periode penanaman nilai-nilai keimanan, aqidah atau tauhid. Akidah merupakan sendi agama, di atas akidahlah segalanya dibangun. Al-Qur`an dalam periode Mekah, menyeru manusia kepada mengesakan Allah (tauhidullah) dan menjauhi segala bentuk kesyirikan. Setelah aqidah/tauhid berakar teguh dalam hati para muslimin dan lenyapnya benih-benih kesyirikan, Allah menyuruh nabiNya untuk hijrah ke Madinah, tanah air baru bagi para muslimin, tempat kebangkitan daya juang yang bebas dalam usaha da’wah dan menerapkan ajaran Islam (baca: tauhid) di tengah-tengah masyarakat yang heterogen.[1]

Inilah inti dari seluruh ajaran yang di bawa Nabi Muhammad saw tersebut. Sekalipun beda tempat, aspek dan cara, namun esensi dari itu semua adalah sama, yaitu tauhid. Bila di Mekah, nabi lebih menekankan kepada tauhid aqidah, yaitu keimanan terhadap Sang Khaliq, maka di Madinah lebih kepada tauhid sosial berupa aplikasi dari tauhid akidah itu sendiri dalam hubungan sosial..

A. Urgensi Tauhid dalam Islam

Tauhid adalah bahasa arab yang diambil dari kata : WahhadaYuwahhiduTauhidan ( وحد- يوحد- توحيدا ) yang secara sederhana dapat diartikan mengesakan. Tauhid Satu suku kata dengan kata wahid (واحد) dan kata ahad. Wahid berarti satu dan kata ahad yang berarti esa.[2]

Tauhid dalam ajaran Islam berarti sebuah keyakinan akan keesaan Allah. Inilah inti dan dasar dari seluruh tata nilai dan norma Islam. Karena itu Islam dikenal sebagai agama tauhid yaitu agama yang mengesakan Tuhan. Sehingga gerakan-gerakan pemurnian Islam terkenal dengan nama gerakan muwahhidin (gerakan yang memperjuangkan tauhid). Selanjutnya, dalam perkembangan sejarah kaum muslimin, tauhid telah berkembang menjadi nama salah satu cabang ilmu Islam, yaitu ilmu Tauhid yakni ilmu yang mempelajari dan membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan keimanan terutama yang menyangkut masalah ke-Maha Esa-an Allah[3].

B. Tauhid sebagai Cabang Ilmu

Tauhid dalam kajiannya sebagai salah satu cabang ilmu telah diklasifikasikan kepada beberapa bagian:

1. Tauhid dalam Rububiyah

Dalam Islam, hakikat manusia beragama adalah meyakini adanya tuhan. Bentuk dari keyakinan itu adalah mengabdikan diri kepada-Nya dengan segenap anggota tubuh (jawahir).[4]

Dalam tataran tauhid rububiyah pada dasarnya manusia berada pada posisi yang sama, yaitu meyakini suatu realitas wujud yang maha sempurna. Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara serta menjaga seluruh Alam Semesta. Sebagaimana terdapat dalam Al Quran surat Az Zumar ayat 62 :

“Allah pencipta segala sesuatu dan Dia yang memelihara segala sesuatu itu

2. Tauhid dalam Uluhiyah

Tauhid uluhiyah merupakan suatu penegasan bahwa tuhan adalah Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Beriman bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bangiNya.[5] Beriman terhadap uluhiyah Allah merupakan konsekuensi dari keimanan terhadap rububiyah-Nya. Firman Allah :

Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan oran- orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang Maha perkasa lagi Maha Bijaksana” (Al Imran : 18).

3. Tauhid dalam Asma’ wa Sifah

Beriman bahwa Allah memiliki nama dan sifat baik (asma’ul husna) yang sesuai dengan keagungan Nya. Umat Islam mengenal 99 asma’ul husna yang merupakan nama sekaligus sifat Allah. Firman Allah SWT:

Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. nanti mereka akan mendapat Balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.

C. Manifestasi Tauhid Dalam Kehidupan

Tidak dipungkiri lagi tauhid merupakan basis seluruh keimanan, norma dan nilai. Tauhid mengandung muatan doktrin yang sentral dan asasi dalam Islam, yaitu memahaesakan tuhan yang bertolak dari kalimat “La Ilaha Illallah” bahwa tidak ada tuhan selain Allah.[6] Dalam pandangan empiris secara umum, tauhid seolah hanya sebuah konsep yang membuat orang hanya mampu berkutat pada doktrin itu semata. Kesan yang timbul adalah tauhid hanyalah untuk diyakini dan diucapkan, tidak lebih. Padahal praktek tauhid yang dicontohkan oleh Rasulullah tidaklah seperti itu. Tauhid tidak berhenti hanya sebatas doktrin, tapi harus ditunjukkan dengan sikap dalam kehidupan. Dengan itu akan lahirlah rasa kebahagiaan dan kedamaian dalam setiap dimensi kehidupan.

1. Refleksi Makna Tauhid

Kalimah syahadah adalah doktrin yang bersifat fundamental dan menyeluruh berupa kesaksian imani tentang keyakinan akan kemahatunggalan Allah yang bersifat mutlak yang didalamnya terkandung keyakinan imani tentang Allah yang Maha segala-galanya dalam totalitas Kedaulatan Tuhan atas kehidupan, jagad raya dan isinya. Tauhid sebagai sentral dan dasar keyakinan dalam Islam ini menjadi sumber totalitas sikap dan pandangan hidup umat dalam keseluruhan dimensi kehidupan. Pandangan Tauhid yang bersifat menyeluruh ini selain melahirkan keyakinan akan ke-Maha-Esaan Allah (unity of Good head) juga melahirkan konsepsi ketauhidan yang lainnya dalam wujud keyakinan akan kesatuan penciptaan (unity of creation), kesatuan kemanusiaan (unity of mankind), kesatuan pedoman hidup (unity of guidance), dan kesatuan tujuan hidup (unity of tbe purpose of life) umat manusia.[7]

Sejalan dengan itu, ulama besar dan mufassir al-Qur`an Thabathaba’i mengatakan “tauhid, bila diuraikan akan menjadi keseluruhan Islam, dan bila Islam dirangkum akan diperoleh tauhid”. Tauhid bagaikan khazanah yang disatukan. Pada permukaannya akan kelihatan prinsip akidah yang sederhana, tapi apabila direntangkan ia akan meliputi seluruh alam. Artinya, keseluruhan Islam adalah suatu tubuh yang terbentuk dari berbagai anggota dan bagian, sedangkan jiwanya adalah tauhid. Ketika tauhid (sebagai ruh) terpisah dari anggota dan bagian itu (dalam bentuk amaliyah dan sikap), maka yang akan terbentuk hanyalah seonggokan bangkai yang tak bernyawa alias mati.[8]

2. Peranan Tauhid Bagi Kemanusiaan

Tauhid, dengan serangkaian nilai yang dikandungnya, hari ini mendapatkan tantangan yang cukup besar. Dimana konsep tauhid tidak cukup hanya dipahami sebagai doktrin semata yang ternyata tidak mampu menjawab persoalan zaman hari ini.[9] Sebagai muslim, tidaklah cukup kalimat tauhid tersebut hanya dinyatakan dalam bentuk ucapan (lisan) dan diyakini dalam hati, tetapi harus dilanjutkan dalam bentuk perbuatan. Sebagai konsekuensi pemikiran ini, berarti semua ibadah murni (mahdhah) seperti shalat, puasa, haji, dan seterusnya memiliki dimensi sosial. Kualitas ibadah seseorang sangat tergantung pada sejauh mana ibadah tersebut mempengaruhi perilaku sosialnya.[10]

Tauhid membentuk manusia dapat menempatkan manusia lain pada posisi kemanusiaanya. Manusia tidak dihargai lebih rendah dari kemanusiaanya sehingga diposisikan bagai binatang, atau lebih tinggi bagai tuhan. Ketika itu, maka berbagai kerusuhan berjubah agama yang selalu muncul silih berganti di berbagai belahan bumi ini tak perlu terjadi. Katakanlah, sejarah perang salib yang merupakan potret pertentangan panjang antar pemeluk Islam-Kristen. Juga perang Bosnia antara pemeluk Khatolik-Islam, pertentangan panjang Palestina-Israel (Islam-Yahudi), Irlandia Utara-Inggris (Khatolik-Protestan), dan sebagainya adalah serentetan daftar panjang tentang konflik yang sangat kental nuansa agamanya.[11]

Dalam wilayah kepentingan hidup umat manusia, konsepsi tauhid sesungguhnya mempunyai banyak dimensi aktual, salah satunya adalah dimensi pemerdekaan atau pembebasan dari segala macam perbudakan, (tahrirun nas min ‘ibadatil ‘ibad ila ‘ibadatillah.[12] Diharuskannya manusia bertauhid dan dilarangnya menyekutukan Allah yang disebut syirik, bukanlah untuk kepentingan status-quo Tuhan yang memang maha merdeka dari interes-interes semacam itu, tetapi untuk kepentingan manusia itu sendiri. Dengan demikian terjadi proses emansipasi teologis yang sejalan dengan fitrah kekhalifahan manusia di muka bumi. Manusia bukanlah sekadar abdi Allah, tetapi juga khalifah Allah di muka bumi ini. Karenanya, manusia harus dibebaskan dari penjara-penjara thaghut dalam segala macam konsepsi dan perwujudannya, yang membuat manusia menjadi tidak berdaya sebagai khalifah-Nya. Sehingga dengan keyakinan tauhid itu, manusia menjadi tidak akan terjebak pada kecongkakan karena di atas kelebihan dirinya dibandingkan dengan makhluk Tuhan lainnya masih ada kekuasaan Allah Yang Maha segala-galanya. Selain itu, manusia diberi kesadaran yang tinggi akan kekhalifahan dirinya untuk memakmurkan bumi ini yang tidak dapat ditunaikan oleh makhluk Tuhan lainnya sehingga dirinya haruslah bebas atau merdeka dari berbagai penjara kehidupan yang dilambangkan thaghut. Dengan ketundukan kepada Allah sebagai wujud sikap bertauhid dan bebasnya manusia dari penjara thaghut maka hal itu berarti bahwa manusia sungguh menjadi makhluk merdeka di muka bumi, sebuah kemerdekaan yang bertanggungjawab selaku khalifah­Nya.[13]

Karenanya, secara rasional dapat dijelaskan bahwa keyakinan kepada Allah yang Maha esa sebagaimana doktrin tauhid mematoknya demikian, selain memperbesar ketundukan manusia dalam beribadah selaku hamba-Nya, sekaligus memperbesar dan mengarahkan potensi kemampuan manusia selaku khalifah-Nya di atas jagad raya ini. Dari proses pembebasan atau pemerdekaan ini akan melahirkan sikap manusia yang merdeka dan bertanggungjawab.

Dengan demikian, selain pada aras individual, tauhid memiliki dimensi aktualisasi bermakna pembebasan atau pemerdekaan pada aras kehidupan kolektif dan sistem sosial. Pembebasan Bilal sang hamba sahaya di zaman Rasulullah, adalah simbolisasi dari makna pembebasan struktural sistem sosial jahiliyah oleh sistem sosial yang berlandaskan tauhid. Bilal yang hitam dan hamba sahaya adalah perlambang dari kaum dhu’afa, kaum lemah dan tertindas dalam sistem berjuasi Arab Quraisy. Dengan landasan doktrin tauhid, kelompok dhu’afa dan mustadh’afin ini kemudian dimerdekakan dan diberdayakan, sehingga menjadi duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan kelompok elit atas seperti Abu Bakr as-Shidieq, Usman bin Affan, dan lainnya. Dengan doktrin tauhid inilah kemudian Islam memperkenalkan sistem sosial baru yang berasas kesamaan (musawah), keadilan (‘adalah), dan kemerdekaan (huriyyah).[14]

Karenanya, dengan gagasan tauhid sosial yang merupakan aktualisasi tauhid ke dalam sistem sosial berbagai aspek kehidupan umat, seyogyanya muncul proses pemberdayaan dan pembebasan umat terutama pada kaum dhu’afa dari berbagai bentuk ekslpoitasi baik pada level individual maupun struktural. Setiap bentuk eksploitasi manusia oleh manusia lainnya dalam berbagai bentuk, bukan hanya bertentangan dengan fitrah dan rasa kemanusiaan, tetapi juga bertentangan dengan kehendak Tuhan dalam menciptakan umat manusia di muka bumi ini. Dengan kata lain, mereka yang benar-benar bertauhid, seyogyanyalah selalu peka dan terpanggil kesadarannya untuk memerdekakan, membebaskan, dan memberdayakan umat manusia dari segala macam eksploitasi yang membuat kehidupan ini menjadi nista, sekaligus jangan sampai terjangkiti penyakit yang menghancurkan hakikat kemanusiaan ini.

3. Tauhid Dalam Menjawab Permasalahan Pluralitas

Kini, secara kebetulan umat Islam di Indonesia adalah penduduk terbesar, karenanya implementasi sikap hidup tauhid sangatlah dituntut dari setiap muslim dalam menyehatkan sistem dan memberdayakan rakyat di berbagai aspek kehidupan baik di bidang politik, ekonomi, budaya, dan aspek-aspek kehidupan penting lainnya. Lebih-lebih ketika sang muslim itu memiliki posisi dan otoritas formal yang penting serta menentukan kepentingan atau hajat hidup orang banyak. Umat Islam secara kolektif dan orang-orang Islam secara individual dituntut untuk menjadi teladan yang terbaik dalam mempraktekkan kehidupan dan membentuk bangunan sosial yang salih, sebagai pancaran sikap hidup tauhid. Inilah yang dikehendaki dalam wacana dan perspektif tauhid sosial. Dalam aktualisasi konkretnya, tuntutan untuk mengaktualisasikan tauhid dalam kehidupan sosial sebagaimana komitmen dari tauhid sosial, tentu saja tidaklah bersifat sederhana dan bahkan terbilang merupakan tantangan berat karena akan bersinggungan dengan beragam kepentingan yang melekat dalam diri manusia selaku aktor sosial dan pada struktur atau sistem sosial.[15]

Tidak jarang terjadi kecenderungan, secara formal seseorang itu bertauhid dalam artian tidak menjadi musyrik, tetapi dalam kehidupan sosialnya mempraktekkan hal-hal yang bertentangan dengan esensi dan makna tauhid. Kecenderungan ini terjadi, sebab besar kemungkinan bahwa apa yang dinamakan thaghut sebagai perlambang tuhan selain Allah, ketika bersarang dalam diri manusia mungkin lebih bersifat satu wajah yang bernama hawa nafsu atau pikiran-pikiran sesat yang bersifat individual, tetapi ketika masuk ke dalam struktur sosial akan banyak sekali wajah dan perwujudannya dalam bentuk jahiliyah sistem sebagai akumulasi dari pertemuan seribu satu hawa nafsu dan pikiran-pikiran sesat yang bersifat kolektif. Karenanya sebagai perwujudan atau aktualisasi bertauhid, boleh jadi ada orang salih secara individual, tetapi tidak salih secara sosial. Sebab pengalaman empirik menunjukkan, menciptakan sistem sosial yang salih bukan pekerjaan gampang. Hal yang paling buruk ialah, banyak orang yang secara indi­vidual tidak salih hidup di tengah sistem sosial yang munkar.

Proses pemerdekaan atau pembebasan manusia untuk membangun kehidupan yang shalih baik secara individual maupun struktural yang berarti juga menolak setiap sistem yang munkar, bagaimanapun akan berhadapan dengan kekuatan­-kekuatan thaghut. Dalam wilayah profan, thaghut adalah perlambang kekuatan tiranik yang sewenang-wenang, yang melampaui batas. Sikap suka melampaui batas ini secara alamiah terdapat dalam diri manusia. QS. Al-‘Alaq/96: 6-7):

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena Dia melihat dirinya serba cukup.

Dan akan terakumulasi menjadi kekuatan destruktif yang menghancurkan martabat kehidupan manusia yang luhur ketika melekat dalam struktur atau sistem sosial sebagai perwuju­dan dari “thaghut kolektif’ yang massive. Dalam perspektif kehidupan sosial dapat dilihat contoh konkret, bahwa setiap upaya pemberdayaan yang berorientasi pada peningkatan martabat hidup kemanusiaan yang menyangkut kepentingan terbesar masyarakat akan berhadapan dengan kendala budaya dalam status-quo elit sosial dan kendala struktur dalam status-quo sistem yang cenderung ingin melanggengkan dirinya di tengah kekuatan perubahan.

D. Pemikran Islam Transpormatif dan Peranan Kader HMI

Saat ini teologi Islam mendapat tantang yang sangat besar. Dimana teologi tidak cukup hanya dipahami sebagai ilmu tentang ketuhanan. Namun lebih dari itu dituntut untuk menterjemahkan apa yang disebut sebagai “kebenaran agama” dalam kontek realitas kehidupan manusia. Dengan begitu teologi bukan sekedar sebuah wacana ilmu ketuhanan yang cenderung hanya begerak pada wilayah ide, melainkan juga dapat menumbuhkan “kesadaran teologis” yang bersifat praktis bagai kalangan beragama dalam rangka memecahkan problem-problem sosial yang menghimpit kehidupan umat manusia[16].

Untuk itu, agama membutuhkan sebuah agenda baru berupa teologi (Islam) yang bervisi transpormatif . Yakni suatu rumusan normatif tentang bagaimanakah seharusnya agama dapat terlibat dalam masalah-masalah sosial sekaligus memberikan jawaban dan komitmen atas masalah itu, yang tentunya sesuai perkembangan zaman. Sehingga agama (Islam) tetap menjadi spirit perjuangan memperoleh keadilan sosial yang menyeluruh.

Teologi transpormatif merupakan sebuah penyatuan teologi dan analisis sosial untuk dimanfaatkan dalam kehidupan sosial-keagamaan hari ini. Kalangan teologi transpormatif, dalam masalah ekonimi misalnya, beranggapan bahwa pemerataan ekonomi dalam rangka membasmi kemiskinan harus melalui perombakan kelembagaan atau struktur sosial yang ada tujuannya adalah mentranpormasikan alokasi sumber daya sehingga dapat dimanfaatkan sepenuhnya untuk kepentingan rakyat banyak. Karena itu kalangan transpormis ini—yang melihat kemungkinan proses pembangunan dengan perubahan strukrtural—perlu terlebih dahulu melihat factor-faktor eksternal seobjektif mungkin[17].

Dalam konteks ke-HMI-an, dimana sebagai organisasi perjuangan, setiap saat HMI dihadapkan kepada berbagai tantangan yang datang silih berganti. Tantangan itupun akan selalu muncul terlebih-lebih di masa depan, yang bentuk dan wujudnya jauh lebih besar dan berat. Ada dua tantangan besar yang dihadapi HMI, yaitu tantangan internal dan eksternal.

Kajian tentang HMI saat ini menunjukkan, bahwa dalam kehidupan sekarang dan mendatang, HMI telah di tantang oleh:

1. Masalah eksistensi HMI yang ditandai berbagai indikator kemunduran HMI, walaupun HMI ada tetapi seolah-olah tidak ada karena tidak mampu melaksanakan fungsi dan peranannya sebagaimana mestinya.

2. Masalah relevansi pemikiran-pemikiran HMI, untuk melakukan perbaikan dan perubahan yang mendasar terhadap berbagai masalah yang muncul yang dihadapi bangsa Indonesia.

3. Masalah peran HMI sebagai organisasi perjuangan yang sanggup tampil dalam barisan terdepan sebagai avant garde, kader pelopor bangsa dalam mengambil inisiatif untuk melakukan berbagai perubahan yang sangat dibutuhkan masyarakat.

4. Masalah efektifitas HMI untuk memecahkan masalah yang dihadapi bangsa, karena banyak organisasi yang sejenis maupun yang lain yang dapat tampil lebih efektif dan dapat mengambil inisiatif terdepan untuk memberi solusi terhadap problem yang dihadapi bangsa Indonesia.

Sebagai jawabannya, menuntut pemecahan yang bersifat teoritis dan praktis, akan tetapi semuanya bersifat konseptual, integrative dan inclusive, sebab pendekatan yang tidak konseptual, parsial dan eksklusif tidak akan melahirkan jawaban yang efektif. Untuk itu dibutuhkan ide dan pemikiran dari anggota, aktifis, kader, dan pengurus HMI diseluruh jenjang organisasi.

Adapun tantangan yang dihadapi HMI yang bersifat eksternal antara lain :

1. Tantangan menghadapi perubahan zaman jauh berbeda dari abad ke 20 dan yang muncul pada abad 21

2. Tantangan terhadap peralihan organisasi yang hidup dalam zaman dan situasi yang berbeda dalam berbagai aspek kehidupan khususnya yang dijalani generasi muda bangsa.

3. Tantangan untuk mempersiapkan kader-kader dan alumni HMI, yang akan menggantungkan alumni-alumni yang saat ini menduduki diberbagai posisi strategis dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena regenerasi atau pergantian pejabat-pejabat, suka tidak suka pasti berlangsung.

4. Tantangan menghadapi golongan lain, yang mempunyai misi lain dari umat Islam dan bangsa Indonesia.

5. Tantangan tentang adanya rawan aqidah. Abad kejatuhan manusia dari makhluk spiritual menjadi makhluk materialistis adalah akibat munculnya humanisme dalam panggung sejarah yang ditandai dengan adanya renaissance, lewat corong renaissance ini, humanisme mempromosikan potensi manusia melebihi batas-batas fitrahnya. Dimensi yang kedua adalah munculnya materi yang tidak bertuhan (materialisme) yang menganggap realitas kehidupan ini Cuma materi. Dimensi yang ketiga adalah perilaku yang tidak bertuhan (atheis) yaitu suatu pandangan hidup yang tidak mengakui tuhan secara konsepsional karena tuhan tidak dapat ditangkap oleh indra.

6. Tantangan menghadapi kamajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang treys berkembang tanpa berhenti sejenakpun.

7. Tantangan menghadapi perubahan dan pembaharuan di segala aspek kehidupan manusia yang terus berlangsung sesuai dengan semangat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

8. Tantangan menghadapi masa depan yang belum dapat diketahui bentuk dan coraknya.

Menghadapi tantangan itu, HMI dengan segenap aparatnya harus mampu bertindak dengan penuh semangat dan militansi yang tinggi. Apakah HMI mampu menghadapi tantangan itu, sangat ditentukan oleh pemegang kendali organisasi sejak dari PB HMI sampai komisariat.[18] Ketika Tauhid aqidah dapat dibuktikan dengan fiqih ibadah dan tauhid sosial yang tercermin dari fiqih sosial, maka salah satu tindakan kader HMI hari ini adalah bagaimana mentransformasikan nilai-nilai Islam tersebut sehingga tercapainya tujuan HMI yang dirumuskan dalam lima kualitas insan cita HMI, yaitu terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat yang adil makmur yang diridhai Allah SWT.

Ketika HMI belum bisa manklukkan tantangan-tantangan itu (ekstern dan intern), maka bagaimanakah HMI akan mampu berbuat untuk masalah-masalah krusial yang berhubungan dengan orang banyak—dan itu tidak ada sangkut-pautnya dengan HMI sendiri—, bila HMI sendiri belum bisa menyelesaikan masalah rumah tangganya sendiri? Ketika itu, sejak dari akar rumput (graas root) akan bergelayutlah pertanyaan, “mana kontribusi HMI buat umat dan bangsa yang selalu dikoar-koarkan itu?

E. Proses Tranfrmasi HMI

Dalam pasal 8 Anggaran Dasar (AD) HMI dijelaskan bahwa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah organisasi kader. Maka bentuk transpormasi tersebut adalah sebuah proses perkaderan. Karena itu, kader yang berproses dalam bentuk mentranformasikan nilai-nilai Islam tersebut adalah seorang “agent”, tepatnya seorang agent yang mampu memahami terlebih dahulu tentang nilai-nilai yang akan ditransformasikan itu..

AS Hornby dalam kamusnya Oxford Advanced Learner’s Dictionary menuliskan bahwa yang dimaksud dengan kader itu adalah sekelompok orang yang terorganisir secara terus menerus dan akan menjadi tulang punggung bagi kelompok yang lebih besar.[19]

Perkaderan adalah usaha organisasi yang dilaksanakan secara sadar dan sistematis selaras dengan pedoman perkaderan HMI, sehingga memungkin seorang anggota HMI mengaktualisasikan potensi dirinya menjadi seorang kader muslim intelektual profesional yang memiliki kualitas insan cita.[20]

Di HMI perkaderan secara umum ada dua macam, yaitu perkaderan formal dan informal. Adapun perkaderan yang bersifat formal adalah:

1. Masa Perkenalan Calon Anggota (MAPERCA)

2. Latihan Kader I (Basic Training)

Target sebuah LK I adalah terbinanya kepribadian muslim yang berkualitas akademis, sadar akan fungsi dan peranannya dalam berorganisasi serta hak dan kewajibanya sebagai kader umat dan kader bangsa.

3. Latihan Kader II (intermediate training)

LK II bertujuan agar terbinanya kader HMI yang mempunyai kemampuan intelektual dan mampu mengelola organisasi serta berjuang untuk meneruskan dan mengemban misi HMI.

4. Latihan Kader III (Advance training)

LK III adalah training yang bertujuan agar terbinanya kader pemimpin yang mampu menterjemahkan dan mentransformasikan pemikiran konsepsional secara profesional dalam gerak perubahan sosial.

Adapun perkaderan yang yang bersifat non formal adalah senior cours (pelatihan instrukrur), latihan khusus KOHATI, Up-grading kepengurusan, kepanitiaan, kesekretariatan dan lain-lain. Dengan tujuan terbinanya kader yang memiliki skill dan profesionalisme dalam bidang manajerial, keinsrukturan, keorganisasian, kepemimpianan dan kewirausahaan, dan profesionalisme lainnya.[21]

Karena demikian HMI yang mempunyai ruh yang disebut dengan Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang terdiri dari delapan bab yang terangkum kedalam empat kategori, yaitu: pendidikan moral transendent (ketuhanan), keadilan sosial, usaha (ikhtiar) dan ilmu pengetahuan.

Jadi, seorang kader yang berfungsi sebagai sosial control, terlebih dahulu diisi dengan nilai-nilai ketuhanan, dan nilai-nilai itulah yang akan ditranspormasikan kepada seluruh masyarakat. Adapun cara mentranspormasikan nilai-nilai tersebut kepada peserta hendaklah secara sistematis dan terarah, karena dengan cara seperti itu akan menolong peserta dapat memahami materi secara menyeluruh dan terpadu. Dalam penyampaian materi hendaknya dengan cara menggabungkan antara ceramah dan diskusi/dialog, usaha menimbulkan kegairahan (motivasi) antar sesama unsur individu dan harus mampu memberikan chalange dan menumbuhkan respon yang sebesar-besarnya serta menumbuhkan corak demokratis, adanya keselarasan tujuan HMI dan target yang akan dicapai dalam proses perkaderan.


[1] Manna’ Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, Litera Antarnusa, h. 71

[2] H. Zainuddin, Ilmu Tauhid Lengkap, Jakarta; PT. Rineka Cipta. 1996. h. 1

[4] Op.Cit. h. 20

[5] Ibid. h. 17

[6] Muhammad Taqi Misbah. Monoteisme, Tauhid Sebagai Sistem Nilai Dan Akidah Islam. Jakarta, PT. Lentera Basritama. 1996.

[7] Amin Rais, Cakrawala Islam, Bandung; Mizan. 1997. h. 18

[8] Misbah, Muhammad Taqi. Monoteisme, Tauhid Sebagai Sistem Nilai dan Akidah Islam. Jakarta: PT. Lentera Basritama. 1996. h.10-11.

[9] Rachman, Budi Anwar, Islam Pluralis, Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, PT. Raja Grafindo Persada; Jakarta. 2004

[10] Amin Rais, Cakrawala Islam, Bandung; Mizan. 1997

[11] Muhammad Nurfatoni, Tuhan Yang Terpenjara, Jakarta; Kanzun books. 2008. h. 60

[12] Amin Rais, Cakrawala Islam, Bandung; Mizan. 1997. h. 13-14

[13] Amir Tajrid, M.Ag, http://www.banker makalah.blogspot.com/2007/03/menyeimbangkan-tauhid-individual dan.html/ diakses-ada:07/12/2008

[14] Ibid

[15] Amin Rais, Cakrawala Islam, Bandung; Mizan. 1997

[16] Rachman, Budi Anwar, Islam Pluralis, Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, PT. Raja Grafindo Persada; Jakarta. 2004. h.430-435

[17] Ibid. h.437

[18] Agussalim Sitompul, 44 Indikator Kemunduran HMI, Jakarta; CV. Misaka Galiza. 2006. h. 112-116

[19] Rancangan Hasil-Hasil Kongres XXVI Palembang. H. 295

[20] Ibid. h. 297

[21] Ibid. h. 319-321

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Nilai-nilai dasar perjuangan (NDP) merupakan landasan perjuangan (ruh) HMI. Di dalamnya terangkum pendidikan moral transenden (ketuhanan), keadilan sosial, usaha (ikhtiar) dan ilmu pengetahuan. Muara dari itu semua adalah tumbuhnya lima kualitas insan cita dalam diri setiap kader, yaitu akademis, pencipta, pengabdi, bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai oleh Allah SWT. Inilah (di antara) transformasi nilai-nilai Islam yang berangkat dari ajaran tauhid tersebut.

Tanggung jawab kader dalam hal ini adalah menjalankan NDP itu sendiri. Artinya, proses transformasi nilai itu adalah NDP-nya HMI. Muatan moral transenden dalam NDP merupakan bentuk ril dari tauhid secara aqidah, keadilan sosial adalah sasaran tauhid sosial, usaha (ikhtiar) merupakan alat dan proses transformasi itu sendiri, dan identitas seorang kader HMI adalah ilmu pengetahuan.

B. Saran

HMI adalah organisasi perjuangan, itulah isi pasal 9 anggaran dasar (AD) HMI. “Ruh perjuangan itu sendiri adalah nilai dasar perjuangan (NDP)”, begitulah yang harus diyakini seorang kader. Persoalan yang dihadapi HMI hari ini adalah minimnya pemahaman tentang perjuangan dan spirit dari HMI itu sendiri. Maka wajar aja Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul mengatakan bahwa hari ini HMI itu tidak perlu ada. Karena keberadaan HMI dalam kondisi seperti itu tak ubahnya bagai bangkai tanpa nyawa, keberadaannya tidak akan memberi pengaruh apa-apa, bahkan akan menambah masalah. Untuk itu, selaku kader HMI sangat diharapkan memahami kandungan nilai-nilai perjuangan tersebut yang terangkum dalam nilai-nilai dasar perjuangan (NDP) HMI.

Leave a comment »

tentang gue

nama : syukri taslim

nim : 407 097

fak : tarbiyah

jur : pendidikan bahasa arab ( PBA). IAIN Imam bonjol padang.

ttl : simaung, 26 maret 1987

asal : jorong lariang, kenagarian nan VII, kec. palupuh kab. agam

makes : martabak bandung

mikes : kopi susu

muskes : nasyid

hobby : coret moret

status : single alias jomblo keren

cita-cita : dosen

motto : penampilan yang sempurna merupakan hasil dari persiapan yang matang.

kata mutiara : ana ‘abdun man ‘allamaniy walau harfan

cp : 085278939357

email : cybungsoe@gmail.com

Leave a comment »

Sains Islami atau Pseudo-Sains?

nama : Syukri taslim

nim : 407 097

fak/jur : tarbiyah/PBA

Kita boleh saja meyakini Islam sebagai agama yang pro-ilmu pengetahuan.
Tapi, sikap itu tak perlu ditempuh dengan cara “mencocok-cocokan” atau
mencari ayat mana yang sesuai dengan fakta ilmiah tertentu. Sikap yang
benar adalah terbukanya nalar sehingga mau mempelajari ilmu pengetahuan
darimanapun asalnya. Tidak perlu membeda-bedakan ilmu pengetahuan di bidang
teknik maupun sosial.

Selalu ada kecenderungan unik dari pola pikir fundamentalisme agama. Para
fundamentalis Islam misalnya, sangat giat mengampanyekan Islam yang
syâmil-mutakâmil (mencakup segala sesuatu). Mereka juga senang merujukkan
berbagai penemuan ilmiah mutakhir para ilmuwan Barat sebagai sesuatu yang
sudah berpreseden dalam Islam. Kita kerap mendengar bidang-bidang keilmuan
seperti astronomi, kimia, fisika, geografi dan sejarah, dikait-kaitkan
dengan nama-nama ilmuwan Islam Abad pertengahan seperti al-Biruni,
al-Kindi, Ibnu Khaldun, Ibnu Sina dan lainnya.

Perilaku ini ingin menegaskan satu hal: kemajuan ilmu pengetahuan Barat
tergantung sepenuhnya atau kelanjutan saja dari era gemilang peradaban
Islam. Dengan kata lain, peradaban Barat yang kini maju, berhutang besar
pada Islam masa lampau. Benar, dulu Barat sempat berhutang besar pada
Islam. Benar juga bahwa peradaban Islam pernah unggul di bidang ilmu
pengetahuan berkat penemuan-penemuan para sarjana Muslim. Namun, kaum
fundamentalis kurang menyadari bahwa kemajuan Barat saat ini bukanlah hasil
jiplakan sekali jadi. Ia merupakan akumulasi dari proses penemuan dan
pengembangan yang tiada henti.

Kecenderungan lain adalah: anggapan bahwa sains yang benar adalah yang
bersumber dari Alquran, atau sekurang-kurangnya punya kesesuaian dengan
Alquran. Ini adalah klaim penolakan terhadap sekularisasi ilmu pengetahuan.
Dengan kata lain, sains yang dianggap benar adalah yang berakar dan tidak
“bertentangan” dengan wahyu. Lalu, munculah buku-buku yang mengulas
keterkaitan sains tertentu dengan Alquran ataupun Hadits. Buku-buku
tersebut bercorak geneologis. Artinya, berusaha mencari akar pengetahuan
itu sampai kepada penemu di lingkungan Islam.

Interaksi Peradaban
Yang perlu dicatat, kemajuan peradaban Islam klasik tidaklah berdiri
sendiri. Ia merupakan hasil interaksi yang dinamis dengan peradaban lain
seperti Yunani, Mesir, Persia dan India. Tokoh-tokoh ilmuwan Islam masa itu
sangat rajin berdialog dengan cara mempelajari peradaban lain. Kesan
terbuka, toleran dan pluralis, amat menonjol dalam karakter ilmuwan Islam
masa itu. Karakter tersebut jelas-jelas berseberangan dengan karakter kaum
fundamentalis yang ingin memajukan Islam dengan jalan menutup diri dan
bahkan berkonfrontasi.

Dalam literatur ilmuwan Islam masa silam, jarang sekali ditemukan
tulisan-tulisan yang bernada menyerang atau membeda-bedakan diri dengan
peradaban lain. Dalam ungkapan Hasan Hanafi, persoalan anâ (ego) dan
al-âkhar (the other), bukanlah aspek pembedaan yang penting dalam ilmu
pengetahuan. Yang paling menonjol justru semangat ekumenis dan persatuan.
Orang-orang semacam al-Farabi dan Ibnu Sina selalu berupaya mendekatkan
nabi-nabi besar dengan para filosof Yunani.

Keanehan lain pemikiran fundamentalis: mereka hanya memuji para ilmuwan
Islam dari aspek penemuan ilmiahnya. Dalam segi agamanya, mereka justru
“dijelek-jelekan”. Tuduhan-tuduhan sesat, heterodoks dan sinkretis, kerap
kali dialamatkan pada para filosof dan ilmuwan Islam itu. Kontradiksi ini
memang cukup aneh. Di satu sisi, mereka ingin sekali mengklaim kemajuan
Barat berkat jasa Islam. Tapi, ketika tahu bahwa kemajuan Islam merupakan
buah karya para filosof “liberal” dan inklusif, mereka segera menarik klaim
dan menyatakan bahwa para filosof itu sesat dan menyimpang dari ortodoksi
Islam.

Lalu muncullah ide baru yang lebih dianggap valid untuk menjawab
kontradiksi: Alquranlah yang sesungguhnya menjadi sumber kemajuan ilmu
pengetahuan yang dikembangkan oleh ilmuwan Islam itu. Beragam argumen
dikemukakan untuk meyakinkan bahwa Alquran telah mengajarkan astronomi,
farmasi, geografi, fisika, dan lain sebagainya.

Para apolog-pseudo-sains-Islam ini (demikian saya menyebutnya), lalu
berusaha menggali segala aspek Alqur’an yang menurut mereka mengandung
unsur-unsur pengetahuan praktis dan teoritis. Mereka lupa bahwa logika
iptek tidak berjalan sebagaimana yang mereka pikirkan. Logika iptek
bukanlah deretan fakta yang ajeg dan berlaku sepanjang masa. Iptek hidup
dan berkembang dari hasil akumulasi, revisi, kritik dan pembaharuan yang
terus menerus.

Saya sependapat dengan Lutfie Assyaukanie dalam hal ini: amat bahaya
memandang Alqur’an sebagai ensiklopedi ilmu pengetahuan. Sebab, tidak ada
yang abadi dalam ilmu pengetahuan. Pada suatu masa, suatu teori mungkin
dianggap valid dan sesuai, tapi di lain waktu ia dikritik atau diganti
dengan teori yang dianggap lebih benar. Jika Alqur’an diperlakukan
demikian, tak tertutup kemungkinan terjadinya benturan antara agamawan
versus ilmuwan seperti yang terjadi di zaman renaissence.

Saya ngeri sekali membaca karya-karya Harun Yahya yang amat ambisius
menampilkan gambaran Islam yang ”serba ilmiah”. Ayat-ayat Alquran
“dicocok-cocokan” dengan fenomena-fenomena alam dan sejarah. Gambaran
ilmiah tersebut bukanlah gambaran yang objektif sebagaimana dalam sains
murni. Ada kepentingan ideologis di situ: ingin menunjukan bahwa ilmu
pengetahuan sesuai dengan “kebenaran” Islam atau sebaliknya. Yahya sangat
menggebu-gebu saat menyerang Darwin tentang teori orang pertama yang
dianggap bertentangan dengan Alquran.

Buku-buku sejenis Yahya ini, pada intinya sama-sama berangkat dari semangat
apologi dan hampir punya pola yang sama. Pertama, fakta ilmmiah dicari
rujukannya kepada sumber normatif Islam: Alqur’an dan Hadits. Kedua,
menerapkan prosedur pemilahan fakta yang dianggap sesuai atau tidak dengan
Alquran atau Hadits. Ketiga, fakta yang sesuai dijadikan justifikasi
kebenaran Islam sebagai agama pro-pengetahuan. Keempat, yang tidak sesuai
dianggap tidak benar kemudian dibuatkan bantahan-bantahannya.

Ilmiah dan Pseudo-Ilmiah
Buku-buku tersebut sebenarnya tak layak disebut karya ilmiah, tapi
pseudo-ilmiah atau pseudo-sains. Saya pernah membaca buku pseudo-ilmiah
karangan ulama Arab Saudi yang amat menggelikan. Di situ dinyatakan: bumi
adalah pusat tatasurya, bahkan pusat alam semesta. Premis buku tersebut
berangkat dari ayat Alquran tentang perputaran benda-benda angkasa seperti
bulan dan matahari. Ini jelas teori yang berbahaya karena melibatkan agama
dalam spekulasi ilmiah.
Kita boleh saja meyakini Islam sebagai agama yang pro-ilmu pengetahuan.
Tapi, sikap itu tak perlu ditempuh dengan cara “mencocok-cocokan” atau
mencari ayat mana yang sesuai dengan fakta ilmiah tertentu. Sikap yang
benar adalah terbukanya nalar sehingga mau mempelajari ilmu pengetahuan
darimanapun asalnya. Tidak perlu membeda-bedakan ilmu pengetahuan di bidang
teknik maupun sosial.

Saya pribadi berpihak pada pembedaan antara agama dan sains. Pembedaan
tersebut justru perlu untuk mengokohkan sekularisasi dan penting buat
agama. Sains hanya bicara fakta-fakta, baik yang bersifat sosial maupun
alam. Di sini berlaku verifikasi ilmiah yang dapat membuktikan secara pasti
mana yang benar dan mana yang salah. Tugas agama lain lagi. Ia tidak
berkutat dengan fakta-fakta ilmiah. Agama seperti kata Ulil Abshar-Abdalla,
berurusan dengan makna atau pemaknaan. Di sanalah peran agama yang tepat,
yaitu memberikan makna dalam kehidupan seseorang.
Karena itu, hendaknya kita tak terlalu ambisius mencari kesesuaian antara
Alquran dengan fakta sains. Sebab, ketika ada clash antara sains dan agama,
kita masih bisa mengikuti sains sambil tetap berpegang teguh pada ajaran
agama. Agama yang benar tak bicara soal ketepatan ilmiah, melainkan
ketepatan makna dalam menjalani kehidupan.

Leave a comment »

peserta didik

oleh : syukri taslim

Bab I

PENDAHULUAN

salah satu komponen dalam system pendidikan adalah adanya peserta didik, peserta didik merupakan komponen yang sangat penting dalam system pendidikan, sebab seseorang tidak bisa dikatakan sebagai pendidik apabila tidak ada yang dididiknya.

Peserta didik adalah orang yang memiliki potensi dasar, yang perlu dikembangkan melalui pendidikan, baik secara fisik maupun psikis, baik pendidikan itu dilingkungan keluarga, sekolah maupun dilingkkungan masyarakat dimana anak tersebut berada.

Sebagai peserta didik juga harus memahami hak dan kewajibanya serta melaksanakanya. Hak adalah sesuatu yang harus diterima oleh peserta didik, sedangkan kewajiaban adalah sesuatu yang wajib dilakkukan atau dilaksanakan oleh peserta didik.

Namun itu semua tidak terlepas dari keterlibatan pendidik, karena seorang pendidik harus memahami dan memberikan pemahaman tentang dimensi-dimensi yang terdapat didalam diri peserta didik terhadap peserta didik itu sendiri, kalau seorang pendidik tidak mengetahui dimensi-dimensi tersebut, maka potensi yang dimiliki oleh peserta didik tersebut akan sulit dikembangkan, dan peserta didikpun juga mengenali potensi yang dimilikinya.

Dalam makalah ini, kami mencoba menghidangkan persoalan-persoalan diatas guna mncapai tujuan pendidikan yang diharapakan, khususnya dalam pendidikan Islam.

Bab II

PEMBAHASAN

PESERTA DIDIK

A. Pengertia peserta didik dan klasifikasinya

1. Pengertian peserta didik

Secara umum peserta didik dapat diartikan orang yang sedang memperoleh pendidikan dari pendidiknya. Makalah sebelumnya sudah membahas persoalan pendidik, orang tua adalah pendidik dalam keluarga, guru adalah pendidik dilingkungan sekolah, pemimpin dan pemuka masyarakat adalah pendidik dilingkungan masyarakatnya. Nah peserta didik merupakan objek dari mereka, dalam lingkungan keluarga peserta didik adalah orang yang memperoleh bimbingan, asuhan dan pelajaran dari orang tuanya atau kakaknya, dilingkungan sekolah peserta didik merupakan orang yang mendapat didikan dan pelajaranya dari gurunya, dilingkungan masyarakat, peserta didik merupakan orang yang memperoleh pengetahuan dan teladan dari pemimpinnya atau pemuka masyarakat.

Menurut etimologi peserta didik dalam bahasa arab disebut dengan Tilmidz jamaknya adalah Talamid, yang artinya adalah “murid”, maksudnya adalah “orang-orang yang mengingini pendidikan”. Dalam bahasa arab dikenal juga dengan istilah Thalib, jamaknya adalah Thullab, yang artinya adalah “mencari”, maksudnya adalah “orang-orang yang mencari ilmu”. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw. ;

من طلب علما فادركه كتب الله كفلين…….( رواه الطبرنى )

“Siapa yang menuntut ilmu dan mendapatkannya, maka Allah mencatat baginya dua bagian”. (HR. Thabrani)

Namun secara defenitif yang lebih detail para ahli teleh menuliskan beberapa pengertian tentang peserta didik. Samsul Nizar menuliskan, Peserta didik merupakan orang yang belum dewasa dan memilki sejumlah potensi (kemampuan) dasar yang masih perlu dikembangkan.[1]

Menurut pasal 1 ayat 4 UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional, peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu.[2]

Abu Ahmadi juga menuliskan tentang pengertian peserta didik yaitu; peserta didik adalah orang yang belum dewasa, yang memerlukan usaha, bantuan, bimbingan orang lain untuk menjadi dewasa, guna dapat melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Tuhan, sebagai umat manusia, sebagai warga Negara, sebagai anggota masyarakat dan sebagai suatu pribadi atau individu.[3]

Dari defenisi-defenisi yang diungkapkan oleh para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa peserta didik adalah orang yang mempunyai fitrah (potensi) dasar, baik secara fisik maupun psikis, yang perlu dikembangkan, untuk mengembangkan potensi tersebut sangat membutuhkan pendidikan dari pendidik.

Samsul Nizar, sebagaimana yang dikutip oleh Ramayulis mengklasifikasikan peserta didik sebagai berikut :

a. Peserta didik bukanlah miniature orang dewasa tetapi memiliki dunianya sendiri.

b. Peserta didik memiliki periodisasi perkembangan dan pertumbuhan.

c. Peserta didik adalah makhluk allah yang memiliki perbedaan individu baik disebabkan oleh factor bawaan maupun lingkungan dimana ia berada.

d. Peserta didik merupakan dua unsure utama jasmani dan rohani, unsur jasmani memiliki daya fisik dan unsure rohani memiliki daya akal hati nurani dan nafsu.

e. Peserta didik adalah manusia yang memiliki potensi atau fitrah yang dapat dikembangkan dan berkembang secara dinamis.

2. Klasifikasi peserta didik

Jujun S. Suria Sumantri mengemukakan bahwa ada 4 jenis manusia yang terdapat dalam kehidupan ini berdasarkan pengetahuannya, yaitu ;

a. Ada orang yang tahu ditahunya

Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, dan kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu, setelah keduanya ini tercakup berarti telah berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kemestaan ini.

b. Ada orang tahu di tidak tahunya.

c. Ada orang yang tidak tahu di tahunya.

d. Ada orang yang tidak tahu ditidak tahunya.[4]

Adapun peserta didik dapat di klasifikasikan sebagai berikut ;

a. Peserta didik dalam lingkungan keluarga.

Keluarga merupakan masyarakat alamiyah yang pergaulan diantara anggotanya bersifat khas. Dalam lingkungan ini terletak dasar pendidikan, diantara peserta didik dalam keluarga adalah anak. Jelas bahwa seringkali dilakukan perlakuan maupun didikan yang berbeda terhadap anak yang dalam keluarganya memproleh didikan yang keras, dan lemah terhadap anak yang ditelantarkan, anak yang asosial dan anak dari kelurga yang harmonis.

b. Peserta didik dalam lingkungan asrama.

Setiap asrama mempunyai suasana tersendiri yang amat diwarnai oleh para pendidik, dan oleh anggota kelompok yang berbeda asal mereka. Jenis dan bentuk peserta didik dilingkungan asrama bermacam-macam, diantaranya adalah ;

1) Asrama santunan yatim piatu, yang didalamnya terdapat anak-anak yang orang tuanya sudah meninggal. Mereka inilah yang siap menjadi peserta didik dalam lingkungan asrama.

2) Asrama tampungan, dimana anak-anak dididik oleh orang tua angkatnya, karena orang tua kandung mereka tidak mampu membiayainya, atau dengan sengaja orang tua mereka menitipkan untuk dididik.

3) Asrama untuk anak-anak nakal atau mempunyai kelainan fisik dan mental, sehingga membutuhkan pendidikan khusus atau pendidikan luar biasa.

4) Asrama yang dibutuhkan untuk menunjang ketercapaian tujuan pendidikan sutau jabatan.

c. Peserta didik dalam lingkungan perkumpulan remaja.

Dalam perkumpulan remaja, seperti organisasi-organisasi, dapat menyalurkan hasrat dan kegiatan, terdapat peserta didik yang pada umumnya anak-anak yang berumur diatas dua balas tahun. Dalam masa remaja anak-anak membutuhkan pendidikan yang bermanfaat karena mereka berada dalam fase puber yang mulai menampakkan perubahan dalam bentuk fisik dan menunjukan keresahan dan kegelisahan mental dan batin.

d. Peserta didik dalam lingkungan kerja.

Kehidupan dewasa ini menuntut lebih benyak mengutamakan ketahanan fisik dan mental, karena diatas pundak mereka terpikul kewajiban-kewajiban yang lebih berat. Oleh sebab itu mereka sangat membutuhkan pendidikan yang berbobot dalam segi pengetahuan, akhlak maupun keterampilan.

e. Peserta didik dalam lingkungan sekolah.

Sekolah merupakan tempat berkumpulnya anak-anak yang berbeda kelas dan tingkat pengathuannya, mereka memperoleh pendidikan dari guru-guru mereka, berupa ilmu pengetahuan (intelek), menanamkan kepribadian yang baik dan mengajarkan bersosialisasi. Peserta didik ini lah yang disebut dengan murid atau siswa.

Pada dasarnya sekolah merupakan suatu lembaga yang membantu untuk tercapainya cita-cita keluarga dan masyarakat. Artinya bukan sekedar lembaga yang didalamnya diajarkan pelajran agama Islam saja, melainkan lembaga pendidikan yang seacara keseluruhannya bernfas Islam.[5]

B. Hak dan kewajiban peserta didik

Agar pelaksanaan proses pendidikan Islam dapat mencapai tujuan yang diinginkan, maka peserta didik hendaknya senantiasa menyadari tugas dan kewajibanya.

1. Hak peserta didik

Hak peserta didik menurut UU RI No. 20 th 2003:

1) Mendapat pendidikan agama sesuai agamanya.

2) Mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai bakat, minat& kemampuan.

3) Mendapat beasiswa bagi yang berprestasi dan orang tuanya tidak mampu membiayai.

4) Pindah ke program pendidikan pada jalur dan satuan pendidikan yang setara.

5) Menyelesaikan pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing dan tidak menyimpang batas waktu yang ditetapkan.[6]

2. Kewajiban peserta didik

Kewajiban peserta didik menurut UU RI No. 20 th2003:

  1. Menjaga norma-norma pendidikan.
  2. Ikut menanggung biaya pendidikan kecuali bagi yang dibebaskan dari kewajiban tersebut.[7]

Menurut Asma Hasan Fahmi, sebagai mana yang dikutip oleh samsul nizar, menuliskan beberapa kewajiban peserta didik antara lain :[8]

a. Peserta didik hendaknya membersihkan hatinya sebelum menuntut ilmu, hal ini disebabkan karena menuntut ilmu adalah ibadah dan tidak sah ibadah kecuali dengan hati yang bersih.

b. Tujuan belajar hendaknya ditujukan untuk menghiasi ruh dengan berbagai sifat keutamaan.

c. Memiliki kemampuan yang kuat untuk mencari dan menuntut ilmu diberbagai tempat.

d. Setiap peserta didik wajib mengormati pendidiknya.

e. Peserta didik hendaknya belajar secara sungguh-sungguh dan tabah dalam belajar.

Selain yang ditulis oleh Asma Hasan Fahmi diatas, pengembara Ibnu Zubeir, menambahkan, kewajiban yang harus senantiasa doperhatikan oleh peserta didik adalah jangan pernah meremehkan suatu ilmu yang telah diberikan.[9]

C. Dimensi-dimensi peserta didik yang akan dikembangkan

Berdasarkan proses penciptaan, manusia merupakan rangkaian utuh antara komponen materi dan immateri, komponen materi berasal dari tanah, seperti yang dituangkan dalam al-qur’an surat as-sajadah ayat 7 :

ü“Ï%©!$# z`|¡ômr& ¨@ä. >äóÓx« ¼çms)n=yz ( r&y‰t/ur t,ù=yz Ç`»|¡SM}$# `ÏB &ûüÏÛ ÇÐÈ

yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.

Dan komponen immateri yaitu; ditiupkan roh oleh Allah. Sebagaimana yang dinyatakan Allah dalam al-qur’an surat al-hijr ayat : 29 :

#sŒÎ*sù ¼çmçF÷ƒ§qy™ àM÷‚xÿtRur ÏmŠÏù `ÏB ÓÇrr•‘ (#qãès)sù ¼çms9 tûïωÉf»y™ ÇËÒÈ

“Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”

Dari komponen asal penciptaan manusia tersebut dapat dsimpulkan bahwa manusia yang akan menjadi peserta didik merupakan terdiri dari unsur jasmani dan rohani (fisik dan psikis). Sebagai peserta didik kedua unsur tersebut harus dikembangkan melalui pendidikan.

Adapun dimensi-dimensi peserta didik yang harus dikembangkan diantaranya adalah

1. Dari segi fisik (jasmani).

Abu Ishak menjelaskan bahwa, jasmani atu jasad sesuatu yang tidak dapat berfikir dan tidak dapat dilepaskan dari pengertian bangkai. Sedangkan menurut al-Lais, makhluk yang berjasad adalah makhluk yang makan dan minum. Menurut al-Ghazali, jasmani adalah bagian yang tidak sempurna, ia terdiri dari unsur-unsur materi, yang pada suatu saat komposisinya bisa rusak. Dengan demikian berarti jasmani manusia bentuk kasar manusia yang nampak, dapat diraba, menempati ruang dan waktu tertentu, mengalami perubahan dan pertumbuhan.[10]

Menurut Harun Nasution, sebagaimana yang dikutip oleh Samsul Nizar, menuliskan bahwa dari segi fisik (jasmani), dimensi manusia (peserta didik) yang harus dikembangkan adalah, potensi pendengaran, penglihatan, rabaan, penciuman dan daya gerak.[11]

Dalam pelaksanaan pendidikan jasmani, didalam al-qur’an ditemukan prinsip-prinsip tentang pendidikan jasmani, diantaranya ;

1. QS. Al-mudtsir : 4-5

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ(4)وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ(5)

“Dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah”.

2. QS. Al-a’raf : 31

يَابَنِي ءَادَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ(31)

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.

2. Dari segi psikis (rohani).

Aspek rohaniyah sifatnya abstrak dan tidak dapat realitaskan, ia hanya terlihat dari adanya aktifitas manusia. Namun para ulama mencoba memeberikan pengertian tentang roh, seperti yang dikuti oleh Samsul Nizar, sebagai berikut :

1. Al-Ghazali, membagi roh kepada dua bentuk ;

a. Al-ruh, yaitu; daya manusia untuk mengenal dirinya sendir, mengenal tuhannya dan mencapai ilmu pemgetahuan.

b. Al-nafs (jiwa) yaitu; panas alami yang mengalir pada pembuluh-pembuluh nadi, oto-otot dan syaraf manusia, ia sebagai tanda adanya kehidupan pada diri manusia.

2. Al-farabi, menuliskan roh merupakan daya penggerak yang memiliki daya aktif.[12]

Allah swt berfirman : QS. Al-syams : 7-10 :

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا(7)فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا(8)قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا(9)وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا(10)

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”.

Berdasarkan ayat diatas, dapat dilihat bahwa roh manusia berkembang ketaraf yang lebih tinggi apabila manusia berusaha kearah itu, yaitu dengan meningkatkan keimanan dan amal saleh, oleh karena itu untuk mewujudkan itu semua sangat membutuhkan pendidikan agama.

Dimensi kejiwaan merupakan dimensi yang sangat penting dan memiliki pengaruh dalam pengendalian keadaan manusia agar dapat hidup sehat, tentram dan bahagia. Firman Allah swt. dalam surat al-hijr : 29 :

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”

  1. Dimensi akal

Al-Ishfahami, membagi akal manusia kepada dua macam, yaitu ;

a. aql al-mathbu’, yaitu akal yang merupakan pancaran dari Allah sebagai fitrah ilahi, akal ini menduduki posisi yang sangat tinggi, namun akal tidak berkembang secara optimal.

b. Aql al-masmu’, yaitu akal yang merupakan kemampuan menerima yang dikembangkan oleh manusia.

Sedangkan fungsi akal manusia terbagi kepada enam macam, yaitu ;

a) Akal sebagai penahan nafsu

b) Akal adalah pengertian dan pemikiran yang berubah-ubah dalam menghadapi sesuatu.

c) Akal sebagai petunjuk yang dapat membedakan hidayah dengan kesesatan.

d) Akal sebagai kesadaran batin dan pengetahuan.

e) Akal sebagai pandangan batin yang berdaya tembus melebihi penglihatan mata.

f) Akal merupakan daya ingat mengambil dari yang telah lampau untuk masa yang akan dating.[13]

  1. Dimensi keberagamaan

Manusia adalah makhluk yang berketuhanan atau yang disebut dengan istilah homo divonous (makhluk yang percaya adanya tuhan). Berdasarkan hasil riset dan observasi, hamper hamper seluruh ahli ilmu jiwa sependapat bahwa pada diri manusia terdapat semacam keinginan dan kebutuhan yang bersifat universal.[14]

Dalam pandangan Islam, sejak lahir manusia telah mempunyai agama dan yang mengakui adanya zat yang maha pencipta. Seperti yang diterangkan oleh Allah dalam al-qur’an, surat al-a’raf ayat 172 :

øŒÎ)ur x‹s{r& y7•/u‘ .`ÏB ûÓÍ_t/ tPyŠ#uä `ÏB óOÏd͑qßgàß öNåktJ­ƒÍh‘èŒ öNèdy‰pkô­r&ur #’n?tã öNÍkŦàÿRr& àMó¡s9r& öNä3În/tÎ/ ( (#qä9$s% 4’n?t/ ¡ !$tRô‰Îgx© ¡ cr& (#qä9qà)s? tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# $¯RÎ) $¨Zà2 ô`tã #x‹»yd tû,Î#Ïÿ»xî ÇÊÐËÈ

dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

Manusia adalah hasil dari proses pendidikan yang mempunyai tujuan tertentu, tujuan pendidikan akan mudah tercapai kalau ia mempunyai kesamaan dengan sifat-sifat dasar dan kecenderungan manusia pada objek-objek tertentu.[15]

  1. Dimensi akhlak

Akhlak menurut pengertian Islam adalah salah satu hasil dari iman dan ibadat, karena iman dan ibadat tidak sempurna kecuali dengan muncul akhlak yang mulia.[16]

Menurut Al-Ghazali, akhlak merupakan tabiat yang bisa dilihat dalam dua bentuk:

b. Tabiat fitrah, yaitu kekuatan tabiat pada asal kesatuan tubuh dan berkelanjutan selama hidup.

c. Akhlak yang muncul dari suatu perangai yang banyak diamalkan dan ditaati sehingga menjadi bagian dari adat kebiasaan yang berurat dan berakar pada dirinya.

Adapun cirri-ciri akhlak Islam, antara lain :

a) Bersifat menyeluruh (universal), akhlak Islam adalah suatu metode (minhaj) yang sempurna meliputi seluruh gejala aktifitas biologis perseorangan dan masyarakat, serta dalam segala segi kehidupan.

b) Cirri-ciri keseimbangan manusia dan akhlaknya menghargai tabiat manusia.

c) Bersifat sederhana dan berlebihan pada satu aspek.

d) Realistis, akhlak Islam sesuai dengan kemampuan manusia dan sejalan dengan naluri yang sehat.

e) Kemudahan, manusia tidak dibebani kecuali dalam batas-batas kesanggupan manusia.

f) Mengikat kepercayaan dengan amal, perkataan dan perbuatan, teori dan praktek.

  1. Dimensi (seni) keindahan

Seni adalah eksperesi roh dan daya manusia yang mengandung dan melahirkan keindahan, sebagai manifestasi dan refleksi dari kehidupan manusia, maka seni merupakan bagi manusia untuk mencapai tujuan hidupnya.

Jadi, tujuan seni bukanlah untuk keindahan, tapi memiliki tujuan jangka panjang yaitu kebahagiaan spiritual dan material manusia didunia dan diakhirat, serta menjadi rahmat bagi segenap alam dibawah naungan ridha Allah.

Firman Allah. QS. Al-nahl : 1

أَتَى أَمْرُ اللَّهِ فَلَا تَسْتَعْجِلُوهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ(1)

“Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang) nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.”

  1. Dimensi sosial

Seorang manusia adalah makhluk individual dan secara bersamaan adalah makhluk sosial. Keserasian antara individu dan masyarakat tidak mempunyai kontradiksi antara tujuan sosial dan individu.

Pendidikan sosial ini melibatkan bimbingan terhadap tingkah laku sosial, ekonomi, dan politik dalam kerangka aqidah Islam yang betul, ajaran-ajaran dan hukum-hukum yang dapat meningkatkan ketakwaan.

Pada dimensi-dimensi diatas, materi pendidikan dalam perspektif pendidikan Islam, terjalin erat antara satu dengan yang lain secara integaral dan harmonis. Model pendidikan yang ditawarkan harus memiliki muatan material dan spiritual, untuk mempersiapkan peserta didik hidup secara dinamis baik bagi kjehidupan dunia maupun kehidupan diakhirat kelak.

Oleh karena itu, muatan materi pendidikan humanistic Islami, tidak semata-mata berorientasi pada ilmi-ilmu agama, tetapi juga berorientasi pada ilmu-ilmu kontemporer.

Bab III

P E N U T U P

A. Kesimpulan

Untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapakan, sangat perlu sistem pendidikan, sistem pendidikan harus diperkuat dengan komponen-komponen pendidikan, salah satu komponen dalam sistem pendidikan adalah peserta didik.

Semenjak manusia berada dalam rahim ibunya, disitu manusia sudah berikrar dihadapan Allah, bahwa ia meyakini Allah lah tuhan yang pantas ia sembah. Ini fitrah manusia, yang disebut dengan istilah hanif (cenderung kepada kebenaran).

Namun kecenderungan itu, bisa berbalik kalau tidak dibimbing dan diasuh dengan pendidikan, baik pendidikan dalam keluarga, masyarakat, maupun di sekolah. Mereka yang dalam proses pendidikan inilah yang disebut dengan peserta didik.

Namun pendidikan, tentu melalui proses yang sangat panjang, dan beliku-liku disertai dengan onak dan duri. Maka disnilah sangat pentingnya memahami hak dan kewajiban peserta didik, serta memahami dimensi-dimensi yang harus dikembangkan. Kalau ini semua sudah terlengkapi insyaallah tujuan pendidikan yang dicita-citakan akan bisa dirasakan oleh peserta didik sendiri, maupun efeknya bagi umat dan bangsa.

B. Saran

Manusia yang menjadi peserta didik harus mampu memahmi kedudukanya, dan mengerti serta melaksankan hak dan tanggung jawabnya dalam proses pendidikan, peserta didik sangat erat kaitannya dengan pendidik, jadi diharapkan bagi pendidik agar memahami dimensi-dimensi yang akan dikembangkan dalam diri peserta didik tersebut, serta memberikan pemahaman kepada peserta didik tersebut agar mereka mengetahui potensi yang dimilikinya, Dengan tujuan untuk mengharapkan tercapainya tujuan pendidikan yang diharapakan.


[1] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta : Ciputat Press. 2002. H. 47

[2] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Kalam Mulia. 2008. H. 77

[3] Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan. Jakarta : PT. Rineka Cipta. 1991. H. 251

[4] Jujun S. Suris Sumantri, Filsafat Ilmu (Sebuah Pengantar Populer), (Jakarta ; CV. Muliasari, 2001). h. 19

[5] Zakiyah Drajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta ; Bumi Aksara, 1992)

[6] R.Aj. Dewi Ardiawati, Pengantar Ilmu Pendidikan (slide presentasi). ( http//www.google.com. 2008).

[7] Ibid

[8] Samsul Nizar. Op.cit

[9] Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, Bandung ; Pustaka Setia, 2005. h. 92

[10] Samsul Nizar, Peserta Didik Dalam Perspektif Pendidikan Islam. (Padang ; IAIN IB Press. 1999). H. 22

[11] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta ; Ciputat press. 2002). h. 16

[12] Op.cit. h. 23-26

[13] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta ; Kalam Mulia, 2002. h. 109-110

[14] Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta ; Raja Grafindo, 1997. h. 54.

[15] Op.cit, h. 113

[16] Ibid, h.114

Leave a comment »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Comments (1) »

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.